Workshop Agroforestry di Kintamani BALI

Workshop Agroforestry di Kintamani BALI

Foto bareng setelah kegiatan workshop dengan para narasumber lain

Statistik dan penelitian biologi (masih draft)

Statistika berasal dari kata latin status yang artinya negara atau untuk menyatakan hal-hal yang berhubungan dengan ketatanegaraan. Pengertian statitik ini kemudian berkembang sesuai dengan perkembangan zamannya.
Mungkin kita sudah mengenal yang namanya statistik dan statistika. Tetapi apakah anda bisa membedakan antara keduanya? supaya tidak salah lagi bagaimana membedakan statistik dan statistika mari kita bahas di sini dan saat ini juga.

Kita mulai dari kata statistika, pengertian statistika adalah metode ilmiah yang mempelajari cara mengumpulkan, mengelola, menghitung, menganalisa, dan juga menarik kesimpulan tentang data. Statistika menurut fungsinya di bagi menjadi dua yaitu statistika deskriptif dan juga statistika inferensia.

Dimana statistika deskriptif (statistika deduktif) hanya sebagai statistika yang menggambarkan dan menganalisis kelompok data tanpa adanya penarikan kesimpulan mengenai kelompok data yang lebih besar. Sedangkan Statistika Inferensia (statistika Induktif) adalah statistika yang menyangkut teknik penggambaran dan analisis kelompok data dengan fungsi menarik kesimpulan. Untuk kata Statistik saja dapat kita artikan sebagai ukuran yang dihitung dari sekumpulan data dan merupakan representative/perwakilan dari data tersebut.-Statistika adalah ilmunya sedangkan statistik adalah ukurannya

-Statistika merupakan metode ilmiah yang berkaitan dengan data, sedangkan statistik adalah kumpulan angka-angka mengenai suatu masalah, dan dapat memberikan gambaran mengenai masalah tersebut.
Statistika adalah suatu metode (alat analisis) yang ditujukan untuk mengumpulkan data, klasifikasi data, tabulasi data, interpretasi data, dan pengambilan keputusan terhadap masalah-masalah yang didasarkan atas penelitian dengan sampel, agar diketahui bagaimana sifat-sifat/karakteristik dari populasi tersebut. Bila penelitian yang dilakukan tidak menggunakan sampel, maka diperlukan data sensus untuk menganalisis sifat-sifat dari populasi tersebut(Saleh, 1998).

Dari pengertian diatas ada tiga hal pokok yang terkandung dalam statistika yaitu: data, Perlakuan pada data berupa pengumpulan, pengolahan/analisis, penafsiran dan penarikan kesimpulan dan angka-angka
Statistika dapat dibagi menjadi statistik deskriptif dan inferensia.Statistika Deskriptif :
Metoda-metoda yang berkaitan dengan pengumpulan dan penyajian suatu gugus data sehingga memberikan informasi yang berguna, tanpa penarikan suatu kesimpulan.
Statistika Induktif/Inferensia :
Metoda-metoda yang berhubungan dengan analisis sebagian data untuk sampai pada penarikan kesimpulan mengenai keseluruhan gugus data.
Dalam statistika Induktif/Inferensia, ada istilah sampel dan populasi. Sampel adalah sebagian kecil dari populasi yang diamati, dan populasi adalah keseluruhan pengamatan yang menjadi objek dari perhatian.
pertanyaan selanjutnya apakah statistik diperlukan dalam penelitian biologi? kita ketahui bahwa penelitian biologi dilakukan dengan mengambil sampel yang mewakili sistem yang kita ingin ketahui gejalanya. sehingga apa yang terjadi hasil dari penelitian tersebut hanya memastikan gejala yang terjadi pada sampel tersebut. oleh karena itu ada kemungkinan untuk penelitian dengan memperbesar cakupan bisa tidak terjadi kebenaran 100%.
Populasi: terdiri dari semua objek dengan karakteristik tertentu yang ingin dipelajari/ diteliti
Parameter: ukuran sebagai wakil dari kumpulan data dalam populasi
Sampel: bagian dari populasi
Statistik: ukuran sebagai wakil dari kumpulan data dalam sampel
Statistika: pengetahuan tentang cara pengumpulan data, penyajian data, analisa atau pengolahan data, dan penarikan kesimpulan data.
Biostatistika: statistika yang digunakan untuk ilmu hayat (life science)
Statistika Deskriptif: statistika untuk menggambarkan data tanpa membuat inferensi (kesimpulan) untuk populasi
Statistika Inferensial: statistika untuk menganalisa data sampel dan hasilnya akan diinferensi(disimpulkan) untuk populasi dimana sampel tersebut ditarik
Statistika Parametrik: statistika untuk menganalisa data yang diambil dari populasi berdistribusi normal
Statistika Nonparametrik: statistika untuk menganalisa data dari populasi yang bebas distribusi
Data:kumpulan hasil pengamatan atau pengukuran terhadap objek penelitian
Data mentah: data yang baru dikumpulkan belum mengalami pengolahan
Jenis Data:
1.1 Data primer: data yang dikumpulkan sendiri
1.2 Data sekunder: data yang diambil dari sumber lain
2.1 Data populasi: diambil secara sensus
2.2 Data sampel: diambil dengan pengambilan sampel
Konstanta: jika data yang diamati, dihitung atau diukur tidak berbeda-beda dari objek ke objek
Bagaimana variabel dikategorikan, dihitung, diukur skala pengukuran
Skala Pengukuran Nominal: mengklasifikasikan data ke dalam kategori yang tidak dapat diurutkan/dirangking (data nominal)
Skala Pengukuran Ordinal: mengklasifikasi data ke dalam kategori yang dapat dirangking (data ordinal)
Skala Pengukuran Interval: mengklasifikasi data ke dalam kategori yang dapat dirangking dan perbedaan antara tiap unit pengukuran ada (tidak mempunyai nilai 0 absolut) (data interval)
Skala Pengukuran Rasio: mempunyai semua karakteristik skala pengukuran interval dan mempunyai nilai absolut 0 (data rasio)

Pengembangan Program Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan : Contoh Kasus di university of Tsukuba Senior High School at Sakado (UTTS), Saitama Japan dan Beberapa Sekolah di Indonesia.

Oleh: Wahyu Surakusumah
Wahyu_bioupi@yahoo.com
Guest Researcher, Life and Enviromental Sciencies, University Of Tsukuba
Staf Pengajar, jurusan Pendidikan Biologi, FPMIPA, Universitas Pendidikan Indonesia

Pembangunan berkelanjutan merupakan suatu konsep pembangunan yang berusaha untuk memenuhi kebutuhan masa kini tanpa mengorbankan generasi masa depan. Pembangunan berkelanjutan juga merupakan visi pembangunan yang mencakup populasi, spesies hewan dan tumbuhan, ekosistem, sumber daya alam dan mengintegrasikan aspek sosial dan ekonomi seperti memerangi kemiskinan, kesetaraan jender, hak asasi manusia, pendidikan untuk semua, kesehatan, keamanan manusia, dialog antar-budaya, dll. Untuk mensosialisasikan hal tersebut perlu dikembangkan program bagi semua kalangan untuk dapat memahami dan berpartisipasi mendukung terjadinya pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan.

Pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan bertujuan membantu orang mengembangkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan untuk membuat keputusan demi keuntungan diri mereka sendiri dan orang lain, sekarang dan di masa depan, dan untuk bertindak berdasarkan keputusan tersebut.
Perserikatan Bangsa-Bangsa melakasanakan program Dekade Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (2005-2014), yang diselenggarakan oleh UNESCO yaitu badan PBB yang berusaha mengintegrasikan prinsip-prinsip, nilai, dan praktek-praktek pembangunan berkelanjutan dalam semua aspek pendidikan dan pembelajaran. Pada kesempatan ini saya ingin mencoba berbagi pengalaman mengenai contoh-contoh pengembangan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan yang telah diimplementasikan dan mudah-mudahan dapat memberikan inisiasi inspirasi untuk pengembangan program tersebut lebih lanjut.
Salah satu sekolah yang telah melaksanakan program pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan adalah sekolah University of Tsukuba Senior High School at Sakado (UTTS), Saitama Japan. Sekolah ini masih dilingkungan University of Tsukuba dan telah melaksanakan suatu program yang merujuk kepada pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan. Program yang dilakukan dinamakan The integrated Science Course. Program ini adalah sebuah sistem pendidikan yang merupakan pendidikan umum dan pendidikan khusus untuk meningkatkan kemampuan siswa dalam menggunakan kemampuan akademik dan melakukan sintesis untuk bekerja dalam masyarakat dan berkontribusi pada pembangunan sosial. Dalam program tersebut, siswa dapat memilih salah satu dari kelompok ilmu yaitu; bioresources dan ilmu lingkungan, sistem dan teknik informasi, ilmu pengetahuan, hidup dan manusia, kemanusiaan, masyarakat dan ilmu komunikasi. Siswa melakukan penelitian sesuai dengan bidang yang diminati dan mereka harus juga belajar keterkaitan subjek penelitian dengan serie kelompok yang lain.
Model yang kedua yang dikembangkan sekolah ini adalah model pembelajaran pendidikan pertanian untuk pembangunan berkelanjutan. Dimana program ini adalah program yang dikembangkan dalam rangka proyek pendidikan untuk pendidikan di negara berkembang yaitu di Indonesia. Program ini bekerja sama dengan salah satu SMA di Indonesia yang bertemakan “energy and environmental. Bahan baku yang digunakan adalah bahan lokal yaitu bambu. Pada kerja sama ini dikembangkan materi dan model pembelajaranya yang disusun secara komprehensif mulai dari kelas 10 sampai kelas 12. Program ini belum dilaksanakan baru tahap perencanaan dan uji coba terbatas. Akan tetapi yang perlu diperhatikan dalam program ini adalah integrasi dengan kurikulum nasional.
Program pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan yang telah diimplementasikan di Indonesia antara lain yang bertemakan pendidikan teknologi dasar. Pendidikan ini mengenalkan teknologi disekitar kehidupan sehari-hari dan juga mengenalkan hubungan teknologi dengan aspek sosial, ekonomi dan lingkungan. Program ini dilaksanakan ada dalam bentuk muatan lokal menjadi mata pelajaran mandiri ada juga yang diintegrasikan dalam mata pelajaran TIK yaitu sebagai ciri ke-internasional sekolah bertaraf international. Akan tetapi untuk program ini ( sekolah bertaraf international) aspek integrasi teknologi dengan sosial, ekonomi dan lingkungan kurang mendapat porsi yang cukup sehingga fokus dalam hal memberikan wawasan tentang arti keberlanjutan pembangunan belum utuh.
Program pendidikan lingkungan hidup juga sangat berpotensi dikembangkan sebagai salah satu wahana pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan. Akan tetapi perlu adanya pengembangan materi maupun model pembelajaran yang mencoba mengintegrasikan aspek sosial, ekonomi dan lingkungan dalam mata pelajaran tersebut. Dengan harapan tujuan pendidikan membantu orang mengembangkan sikap, keterampilan, dan pengetahuan untuk membuat keputusan demi keuntungan diri mereka sendiri dan orang lain, sekarang dan di masa depan, dan untuk bertindak berdasarkan keputusan tersebut dapat dicapai.

Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan

Sebuah visi baru untuk pendidikan
Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (ESD) adalah sebuah konsep dinamis yang mencakup visi baru pendidikan yang bertujuan untuk memberdayakan orang-orang dari segala usia untuk memikul tanggung jawab untuk menciptakan dan menikmati masa depan yang berkelanjutan. Tujuan keseluruhan ESD adalah untuk memberdayakan warga negara untuk bertindak untuk lingkungan yang positif dan perubahan sosial, bermakna partisipatif dan pendekatan berorientasi aksi.

ESD mengintegrasikan konsep-konsep dan alat-alat analisis dari berbagai disiplin ilmu untuk membantu orang lebih memahami dunia di mana mereka tinggal. Mengejar pembangunan berkelanjutan melalui pendidikan memerlukan pendidik dan peserta didik untuk merefleksikan secara kritis masyarakat mereka sendiri; mengidentifikasi unsur-unsur non-viable dalam hidup mereka dan mengeksplorasi ketegangan antara nilai-nilai dan tujuan-tujuan yang saling bertentangan. ESD membawa motivasi baru untuk belajar sebagai murid menjadi diberdayakan untuk mengembangkan dan mengevaluasi alternatif visi masa depan yang berkelanjutan dan untuk bekerja secara kolektif memenuhi visi ini.

Tekanan utama dari ESD
Bab 36 dalam Agenda 21 mengidentifikasi empat tekanan utama dari ESD:

1. Promosi dan peningkatan pendidikan dasar: Akses ke pendidikan dasar masih menjadi masalah bagi banyak orang – khususnya anak-anak perempuan dan buta huruf orang dewasa. Hanya meningkatkan melek huruf dan menghitung dasar, karena selama ini diajarkan, tidak akan secara signifikan kemajuan masyarakat berkelanjutan. Sebaliknya, pendidikan dasar harus berfokus pada menanamkan pengetahuan, keterampilan, perspektif, dan nilai-nilai yang mendorong dan mendukung warga negara untuk memimpin kehidupan berkelanjutan.

2. Mengarahkan kembali pendidikan yang ada di semua tingkatan untuk menangani pembangunan berkelanjutan: Rethinking dan merevisi pendidikan dari taman kanak-kanak hingga universitas untuk memasukkan lebih banyak prinsip-prinsip, keterampilan, perspektif dan nilai-nilai yang berkaitan dengan kesinambungan dalam masing-masing dari tiga alam – sosial, lingkungan, dan ekonomi – adalah penting untuk kami saat ini dan masa depan masyarakat.

3. Mengembangkan pemahaman dan kesadaran masyarakat tentang keberlanjutan: Membuat kemajuan menuju masyarakat yang lebih berkelanjutan memerlukan suatu populasi yang menyadari tujuan dari masyarakat yang berkelanjutan dan memiliki pengetahuan dan keterampilan untuk memberikan kontribusi terhadap tujuan tersebut. Informasi pemungutan suara rakyat dan berpengetahuan konsumen dapat membantu masyarakat dan pemerintah memberlakukan tindakan keberlanjutan dan bergerak ke arah masyarakat yang lebih berkelanjutan.

4. Pelatihan: Semua sektor tenaga kerja dapat berkontribusi untuk lokal, regional dan nasional yang berkelanjutan. Pengembangan program-program pelatihan khusus untuk memastikan bahwa semua sektor tenaga kerja memiliki pengetahuan dan keterampilan yang diperlukan untuk melakukan pekerjaan mereka secara berkelanjutan telah diidentifikasi sebagai komponen penting ESD.

Sumber: Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan informasi , UNESCO

KONSEP PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP

Konsep Pendidikan Lingkungan di Sekolah:

Model Uji Coba Sekolah Berwawasan Lingkungan

Oleh:

Wahyu Surakusumah

Wahyu_bioupi@yahoo.com

JURUSAN PENDIDIKAN BIOLOGI

FAKULTAS  PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA

DAFTAR ISI

Daftar isi……………………………………………………………………………..

1
Pendidikan Lingkungan Hidup……………………………………………….

2
Sejarah Pendidikan Lingkungan Hidup…………………………………… 4
1. Perkembangan Pendidikan Lingkungan Hidup di Tingkat Internasional……… 4
2. Perkembangan Pendidikan Lingkungan Hidup di tingkat ASEAN……………….. 4
3. Perkembangan Pendidikan Lingkungan Hidup di Indonesia………………………

5
Konsep Pendidikan Lingkungan Hidup di sekolah…………………….. 9
1. Sekolah Berwawasan Lingkungan………………………………………………………………………………… 10
2. Program Pendidikan Lingkungan hidup………………………………………………….. 20
3. Piloting Sekolah Berwawasan lingkungan………………………………………………… 23
Lampiran…………………………………………………………………………….. 26

Pendidikan Lingkungan Hidup

Fenomena perubahan lingkungan pada akhir-akhir ini menjadi suatu kejadian yang menyetak pemikiran kita. Beberapa kejadian musibah yang diakibatkan menurunnya kualitas lingkungan menyebabkan kita berpikir kebelakang dan menghubungkan kejadian tersebut dengan proses pendidikan selama ini. Musibah hutan gundul yang menyebabkan erosi yang mengakibatkan banyak korban dikarenakan longsoran kedaerah pemandian yang ramai pengunjung, permasalahan polusi udara di kota besar dikarenakan banyaknya penggunaan kendaraan bermotor, sikap penduduk yang masih membuang sampah sembarangan dan masih banyak penyimpangan perilaku yang dapat menurunkan kualitas lingkungan.

Permasalahan diatas membuat kita berpikir apakah kepedulian masyarakat akan lingkungan sedang mengalami krisis, apakah selama ini pendidikan yang mengupayakan peningkatan kepedulian masyakat masih kurang atau kurang optimum. Hal tersebut yang menyebabkan kita harus berpikir bagaimana upaya-upaya yang perlu di tempuh agar masyarakat dapat meningkat kepeduliaannya terhadap lingkungan.

Kita sebagai orang yang bergerak dalam dunia pendidikan berupaya melalui bidang yang kita tekuni bagaimana mengatasi permasalahan lingkungan hidup yang dari hari ke hari kualitasnya semakin menurun. Salah satu pemikiran kita adalah bagaimana memberikan pendidikan kepada masyarakat mengenai pendidikan lingkungan hidup. Selama ini pendidikan lingkungan hidup telah dilaksanakan sejak tahun 1975 yang dimulai oleh IKIP Jakarta yaitu dengan membuat Garis-garis Besar Pengajaran dan Pembelajaran (GBPP) di bidang lingkungan hidup untuk pendidikan dasar yang kemudian pada tahun ajaran 1977/1978 dilakukan uji coba di 15 sekolah dasar.

Tindaklanjut perkembangan pendidikan lingkungan hidup yaitu pada tahun 1996 ditetapkan Memorandum Bersama antara Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 0142/U/1996 dan No Kep: 89/MENLH/5/1996 tentang Pembinaan dan Pengembangan Pendidikan Lingkungan Hidup, tanggal 21 Mei 1996. Sejalan dengan itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Departemen P & K juga terus mendorong pengembangan dan pemantapan pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup di sekolah-sekolah antara lain melalui penataran guru, penggalakkan bulan bakti lingkungan, penyiapan Buku Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH) untuk Guru SD, SLTP, SMU dan SMK , program sekolah asri, dan lain-lain. Selain itu, berbagai insiatif dilakukan baik oleh pemerintah, LSM, maupun perguruan tinggi dalam mengembangkan pendidikan lingkungan hidup melalui kegiatan seminar, sararasehan, lokakarya, penataran guru, pengembangan sarana pendidikan seperti penyusunan modul-modul integrasi, buku-buku bacaan dan lain-lain.
Walaupun perhatian terhadap langkah-langkah pengembangan pendidikan lingkungan hidup pada satu atau dua tahun terakhir ini semakin meningkat, baik untuk pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah, namun harus diakui bahwa masih banyak hal yang perlu terus selalu diperbaiki agar pendidikan lingkungan hidup dapat lebih memasyarakat secara konsisten dan berkelanjutan. Dengan demikian, kegiatan pendidikan lingkungan hidup yang dilaksanakan mulai jenjang pra sekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah, hingga pendidikan tinggi melalui berbagai bentuk kegiatan dapat memberikan hasil yang optimal.

Sejarah Pendidikan Lingkungan Hidup di Indonesia

1. Perkembangan Pendidikan Lingkungan Hidup di Tingkat Internasional

Pada tahun 1975, sebuah lokakarya internasional tentang pendidikan lingkungan hidup diadakan di Beograd, Jugoslavia. Pada pertemuan tersebut dihasilkan pernyataan antar negara peserta mengenai pendidikan lingkungan hidup yang dikenal sebagai “The Belgrade Charter – a Global Framework for Environmental Education”.

Secara ringkas tujuan pendidikan lingkungan hidup yang dirumuskan dalam Belgrade Charter tersebut di atas adalah sbb:

  1. Meningkatkan kesadaran dan perhatian terhadap keterkaitan bidang ekonomi, sosial, politik serta ekologi, baik di daerah perkotaan maupun pedesaan.
  2. Memberi kesempatan bagi setiap orang untuk mendapatkan pengetahuan, keterampilan, sikap/perilaku, motivasi dan komitmen, yang diperlukan untuk bekerja secara individu dan kolektif untuk menyelesaikan masalah lingkungan saat ini dan mencegah munculnya masalah baru.
  3. Menciptakan satu kesatuan pola tingkah laku baru bagi individu, kelompok-kelompok dan masyarakat terhadap lingkungan hidup.

2. Perkembangan Pendidikan Lingkungan Hidup di tingkat ASEAN

Program pengembangan pendidikan lingkungan bukan merupakan hal yang baru di lingkup ASEAN. Negara-negara anggota ASEAN telah mengembangkan program dan kegiatannya sejak konferensi internasional pendidikan lingkungan hidup pertama di Belgrade tahun 1975. Sejak dikeluarkannya ASEAN Environmental Education Action Plan 2000-2005, masing-masing negara anggota ASEAN perlu memiliki kerangka kerja untuk pengembangan dan pelaksanaan pendidikan lingkungan. Indonesia sebagai negara anggota ASEAN turut aktif dalam merancang dan melaksanakan ASEAN Environmental Education Action Plan 2000-2005. Pada intinya ASEAN Environmental Education Action Plan 2000 – 2005 ini merupakan tonggak sejarah yang penting dalam upaya kerja sama regional antar sesama negara anggota ASEAN dalam turut meningkatkan pelaksanaan pendidikan lingkungan di masing-masing negara anggota ASEAN.

3. Perkembangan Pendidikan Lingkungan Hidup di Indonesia

Di Indonesia perkembangan penyelenggaraan pendidikan lingkungan dimulai pada tahun 1975 dimana IKIP Jakarta untuk pertama kalinya merintis pengembangan pendidikan lingkungan dengan menyusun Garis-garis Besar Program Pengajaran Pendidikan Lingkungan Hidup yang diujicobakan di 15 Sekolah Dasar Jakarta pada periode tahun 1977/1978.

Pada tahun 1979 dibentuk dan berkembang Pusat Studi Lingkungan (PSL) di berbagai perguruan tinggi negeri dan swasta. Bersamaan dengan itu pula mulai dikembangkannya pendidikan AMDAL oleh semua PSL di bawah koordinasi Menteri Negara Pengawasan Pembangunan dan Lingkungan Hidup (Meneg-PPLH). Saat ini jumlah PSL yang menjadi anggota BKPSL telah berkembang menjadi 87 PSL, di samping itu berbagai perguruan tinggi baik negeri maupun swasta mulai mengembangkan dan membentuk program khusus pendidikan lingkungan, misalnya di Jurusan Kehutanan IPB.

Pada jenjang pendidikan dasar dan menegah (menengah umum dan kejuruan), penyampaian mata ajar tentang masalah kependudukan dan lingkungan hidup secara integratif dituangkan dalam sistem kurikulum tahun 1984 dengan memasukkan masalah-masalah kependudukan dan lingkungan hidup ke dalam hampir semua mata pelajaran. Sejak tahun 1989/1990 hingga saat ini berbagai pelatihan tentang lingkungan hidup telah diperkenalkan oleh Departemen Pendidikan Nasional bagi guru-guru SD, SMP dan SMA termasuk Sekolah Kejuruan.

Prakarsa pengembangan pendidikan lingkungan juga dilakukan oleh berbagai LSM. Pada tahun 1996/1997 terbentuk Jaringan Pendidikan Lingkungan (JPL) antara LSM-LSM yang berminat dan menaruh perhatian terhadap pendidikan lingkungan. Hingga tahun 2001 tercatat 76 anggota JPL yang bergerak dalam pengembangan dan pelaksanaan pendidikan lingkungan.

Sehubungan dengan kegiatan pendidikan lingkungan hidup di Indonesia, Kelompok Kerja Pendidikan Konservasi Sumberdaya Hutan dan Lingkungan Hidup (Pokja PKSDH & L) telah membagi perkembangan kegiatan pendidikan lingkungan hidup di Indonesia ke dalam tiga periode, yaitu :
a.  Periode 1969-1983 (periode persiapan dan peletakan dasar)
Usaha pengembangan pendidikan LH ini tidak bisa dilepaskan dari hasil Konferensi Stockholm pada tahun 1972 yang antara lain menghasilkan rekomendasi dan deklarasi antara lain tentang pentingnya kegiatan pendidikan untuk menciptakan kesadaran masyarakat dalam melestarikan lingkungan hidup. Salah satu kegiatan yang mempelopori pengembangan pendidikan lingkungan hidup di Indonesia dilakukan oleh IKIP Jakarta pada tahun yaitu dengan menyusun Garis-garis Besar Pendidikan dan Pengajaran (GBPP) bidang lingkungan hidup untuk pendidikan dasar. Pada tahun 1977/1978, GBPP tersebut kemudian diujicobakan pada 15 SD di Jakarta. Selain itu penyusunan GBPP untuk pendidikan dasar, beberapa perguruan tinggi juga mulai mengembangkan Pusat Studi Lingkungan (PSL) yang salah satu aktivitas utamanya adalah melaksanakan kursus-kursus mengenai analisis dampak lingkungan (AMDAL). Program studi lingkungan dan konservasi sumberdaya alam di beberapa perguruan tinggi juga mulai dikembangkan.

b. Periode 1983-1993 (periode sosialisasi)
Pada periode ini, kegiatan pendidikan lingkungan hidup baik di jalur formal (sekolah) maupun di jalur non formal (luar sekolah) telah semakin berkembang. Pada jalur pendidikan formal, khususnya pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, materi pendidikan yang berkaitan dengan lingkungan hidup dan konservasi SDA telah diintegrasikan ke dalam kurikulum 1984. Selama periode ini, berbagai pusat studi seperti Pusat Studi Kependudukkan (PSK) dan Pusat Studi Lingkungan (PSL) baik di perguruan tinggi negeri maupun pergurutan tinggi swasta terus bertambah jumlah dan aktivitasnya. Selain itu, program-program studi pada jenjang S1, S2, dan S3 yang berkaitan dengan pengelolaan lingkungan hidup dan sumberdaya alam juga terus berkembang. Bahkan isu dan permasalahan lingkungan hidup telah diarahkan sebagai bagian dari Mata Kuliah Dasar Umum (MKDU) yang harus diterima oleh semua mahasiswa pada semua program studi atau disiplin ilmu.
Perhatian terhadap upaya pengembangan pendidikan lingkungan hidup oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan juga terus meningkat, khususnya pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, yaitu dengan terus dimantapkannya program dan aktivitasnya melalui pembentukkan Bagian Proyek KLH sebagai salah satu unit kegiatan di Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen). Pada periode ini sosialiasasi masalah lingkungan hidup juga dilakukan terhadap kalangan administratur negara dengan memasukkan materi kependudukkan dan lingkungan hidup ke dalam kurikulum penjenjangan tingkat Sepada, Sepadya, dan Sespa pada Diklat Lembaga Administrasi Negara (LAN) tahun 1989/1990. Di samping itu, selama periode ini pula banyak LSM serta lembaga nirlaba lainnya yang didirikan dan ikut mengambil peran dalam mendorong terbentuknya kesadaran masyarakat akan pentingnya perilaku ramah lingkungan. Secara keseluruhan, perkembangan kegiatan pendidikan, penyuluhan, dan penyadaran masyarakat di atas tidak saja terjadi di Jakarta tetapi juga di daerah-daerah lainnya.
c. Periode 1993 – sekarang (periode pemantapan dan pengembangan)
Salah satu hal yang menonjol dalam periode ini adalah ditetapkannya Memorandum Bersama antara Departemen Pendidikan dan Kebudayaan dengan Kantor Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 0142/U/1996 dan No Kep: 89/MENLH/5/1996 tentang Pembinaan dan Pengembangan Pendidikan Lingkungan Hidup, tanggal 21 Mei 1996. Sejalan dengan itu, Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah (Dikdasmen) Departemen P & K juga terus mendorong pengembangan dan pemantapan pelaksanaan pendidikan lingkungan hidup di sekolah-sekolah antara lain melalui penataran guru, penggalakkan bulan bakti lingkungan, penyiapan Buku Pedoman Pelaksanaan Pendidikan Kependudukan dan Lingkungan Hidup (PKLH) untuk Guru SD, SLTP, SMU dan SMK , program sekolah asri, dan lain-lain. Selain itu, berbagai insiatif dilakukan baik oleh pemerintah, LSM, maupun erguruan tinggi dalam mengembangkan pendidikan lingkungan hidup melalui kegiatan seminar, sararasehan, lokakarya, penataran guru, pengembangan sarana pendidikan seperti penyusunan modul-modul integrasi, buku-buku bacaan dan lain-lain.
Walaupun perhatian terhadap langkah-langkah pengembangan pendidikan lingkungan hidup pada satu atau dua tahun terakhir ini semakin meningkat, baik untuk pendidikan sekolah dan pendidikan luar sekolah, namun harus diakui bahwa masih banyak hal yang perlu terus selalu diperbaiki agar pendidikan lingkungan hidup dapat lebih memasyarakat secara konsisten dan berkelanjutan. Dengan demikian, kegiatan pendidikan lingkungan hidup yang dilaksanakan mulai jenjang pra sekolah, pendidikan dasar, pendidikan menengah, hingga pendidikan tinggi melalui berbagai bentuk kegiatan dapat memberikan hasil yang optimal.
Konsep Pendidikan Lingkungan Hidup di sekolah

Ada suatu pertanyaan yang kadang kita pikirkan. kapankah pendidikan lingkungan harus kita berikan? Secara rasional ada dua alasan utama mengapa pendidikan lingkungan harus diberikan secara dini: Pertama anak-anak  harus mengembangkan rasa mencintai lingkungan hidup pada usia yang dini, diharapkan dengan pengembangan perasaan tersebut secara dini maka perkembangan rasa tersebut akan tertanam dengan baik. Kedua Interaksi dengan lingkungan hidup merupakan bagian penting dari perkembangan kehidupan anak yang sehat dan interaksi tersebut dapat mendorong kemampuan belajar dan kualitas hidup anak kedepan.

Berdasarkan definisi, pendidikan lingkungan merupakan suatu proses yang bertujuan membentuk perilaku, nilai dan kebiasaan untuk menghargai lingkungan hidup. Dengan definisi diatas kita dapat menyimpulkan bahwa pendidikan lingkungan hidup harus diberikan sejak dini kepada anak-anak kita,  dan yang paling penting pendidikan lingkungan hidup harus berdasarkan pengalaman langsung bersentuhan dengan lingkungan hidup sehingga diharapkan pengalaman langsung tersebut dapat membentuk perilaku, nilai dan kebiasaan untuk menghargai lingkungan.

Bila kita potret anak-anak sekarang cenderung memiliki kesempatan yang sangat terbatas bersentuhan langsung dengan lingkungan hidup, kita bisa lihat anak-anak kita seolah-olah mempunyai dunia sendiri, ketika mereka beristirahat mereka ada di rumah asyik menonton TV, ketika berrekreasi lebih senang berada di mall dengan berbagai macam permainan, ketika pergi kesekolah mereka naik kendara , ketika di sekolah mereka cenderung ada di dalam kelas sehingga anak-anak tersebut terisolasi. Dengan melihat kondisi tersebut anak-anak sangat kritis dalam hal bersentuhan langsung dengan lingkungan hidup dan hal tersebut dapat menyebabkan pengaruh negative terhadap  perkembangan perilaku dan kebiasaan untuk memandang lingkungan hidup sebagai hal yang perlu dipelihara dan dipertahankan keberadaannya.

Di Indonesia pendidikan lingkungan hidup selama ini belum mendapat tempat yang baik. Pendidikan lingkungan hidup yang dilakukan lebih dominan dalam kegiatan pendidikan non formal sedangkan pada pendidikan formal belum mendapatkan tempat yang layak. Permasalahan yang muncul memasukan pendidikan lingkungan hidup di sekolah adalah belum adanya model yang bisa di terapkan dalam rangka tersebut Jurusan Pendidikan Biologi Universitas Pendidikan Indonesia Mengembangkan model pendidikan lingkungan hidup di sekolah.

Model pendidikan lingkungan hidup di sekolah yang dikembangkan terdiri dari meknisme manajemen/pengelolaan implementasi pendidikan lingkungan hidup  dan mekanisme implementasi program pendidikan lingkungan hidup.

  1. 1. Sekolah Berwawasan Lingkungan
Sekolah berwawasan lingkungan adalah sebutan bagi sekolah yang menjadikan pendidikan lingkungan merupakan salah satu misi dalam mencapai tujuan sekolah.  Program pendidikan lingkungan ini memberikan atmosfir di sekolah sehingga setiap saat ketika siswa berada dalam lingkungan sekolah, siswa selalu bersentuhan dengan program ini. Jadi pendidikan lingkungan hidup sudah terintegrasi ke dalam program sekolah.

Siswa selalu bersentuhan dengan pendidikan lingkungan hidup ketika di kelas, pada kegiatan ekstrakurikuler dan pada saat istirahat. Diharapkan dengan terintegrasinya pendidikan lingkungan hidup ini kedalam program sekolah menjadi proses pembiasaan sehingga  diharapkan adanya pengembangan perilaku, sikap dari siswa untuk menghargai, mencintai dan memelihara lingkungan hidup yang di bawa sikap tersebut menjadi kebiasaan sehari-hari.

Ketika program pendidikan lingkungan hidup di sekolah akan dimulai maka perlu dikembangkan suatu sistem yang dapat mengatur program ini. Sistem yang di kembangkan diharapkan dapat mengembangkan tingkat kepedulian siswa terhadap lingkungan, oleh karena itu sistem yang dibangun harus dapat melibatkan berbagai unsur sehingga program ini dirasakan menjadi milik seluruh warga sekolah.

Untuk mengembangkan sistem seperti diatas maka diperlukan tahapan dalam pelaksanaan program tersebut, adapu tahapannya seperti pada Gambar 1 di bawah ini.

Gambar 1. Tahapan pelaksanaan program pendidikan  lingkungan hidup

Tahapan yang di gambarkan diatas adalah langkah-langkah untuk melaksanakan program pendidikan lingkungan hidup di sekolah. Pada gambar ) ada 6 (enam) tahapan yang perlu dilaksanakan. Dalam melaksanakan tahapan diatas sangat ideal apabila dilaksanakan secara berurut dan tahap selanjutnya dilaksanakan apabila tahapan sebelumnya sudah berjalan stabil.

  1. Tahap pertama: Pembentukan komite lingkungan sekolah

Salah satu tujuan dari sekolah berwawasan lingkungan adalah meningkatkan kepedulian warga sekolah terhadap lingkungan. Dalam rangka melibatkan partisipasi aktif dari seluruh warga dan menimbulkan rasa memiliki program pendidikan lingkungan maka untuk mengakomadasi hal tersebut sebagai langkah pertama adalah pembentukan komite sekolah.

Komite lingkungan sekolah mempunyai peranan sebagai: (1) Penjamin semua warga sekolah (termasuk murid) merasa terwakili untuk mebuat keputusan dalam proses implementasi program; (2) Untuk mendorong semua warga sekolah peduli terhadap eksistensi program; (3) menjamin bahwa program di dukung oleh manajemen sekolah; dan (4) sebagai media untuk berhubungan atau melibatkan komunitas di luar sekolah dalam menjalan program ini.

Komite lingkungan sekolah merupakan suatu badan yang mewakili seluruh warga sekolah, oleh karena itu anggota komite lingkungan sekolah yang ideal terdiri dari : Yayasan/dewan sekolah, kepala sekolah, guru, Siswa, Staf bukan guru, dan orang tua. Bentuk komite lingkungan sekolah sangat fleksibel tergantung kondisi sekolah. Komite lingkungan dapat dibagi menjadi beberapa sub komite yang bertanggung jawab terhadap program tertentu.

Keterwakilan siswa dalam komite lingkungan merupakan salah satu faktor penting berhasilnya program pendidikan lingkungan tersebut. Keterwakilan siswa dalam komite lingkungan dapat dilakukan dalam beberapa cara antara memilih perwakilan dari setiap kelas untuk menjadi anggota komite. Pemilhan wakil setiap kelas lebih baik dilakukan dengan cara pemilihan dimana siswa yang bersedia duduk mewakili kelasnya harus memberikan pidato/presentasi mengenai apa yang akan dilakukan sebagai wakil kelas dalam komite lingkungan.

  1. b. Tahap kedua: membuat misi lingkungan sekolah.

Misi lingkungan sekolah adalah suatu pernyataan yang jelas tentang harapan atau komitmen sekolah untuk meningkatkan kualitas lingkungan sekolah dan terciptanya budaya peduli  terhadap lingkungan. Misi lingkungan bisa dibuat berupa kalimat/pernyataan  atau bisa juga dibuat seperti bait-bait syair sajak.

Dalam pembuatan misi lingkungan sekolah keterwakilan siswa sangat penting kaena dengan melibatkan siswa dalam pembuatan misi lingkungan akan meningkatkan motivasi dan rasa bertanggung jawab untuk mewujudkan apa yang terdapat dalam misi lingkungan sekolah.  Misi lingkungan sekolah harus memiliki syarat-syarat sebagai berikut:

(1) Harus realistis

(2) Merupakan kesepakatan semua komponen komite lingkungan sekolah

(3) Dilandasi berdasarkan kondisi lingkungan awal sekolah, isu lingkungan terkini dan cita-cita

(4) Jelas

(5) Dapat dielaborasi menjadi operasional

  1. c. Tahap ketiga : membuat action Plan

Action plan merupakan inti dari program pendidikan lingkungan. Action plan harus dibuat mengacu kepada review kondisi lingkungan awal sekolah. Dari hasil review lingkungan awal sekolah kita mendapatkan aspek-aspek apa saja yang perlu ditingkatkan dan kemudian dibuat target apa saja yang harus di capai. Penentuan target harus realistic, berarti target tersebut bisa di capai karena dengan menargetkan yang sulit atau terlalu ambisius sehingga tidak tercapai dapat mengakibatkan demotivasi siswa dalam melaksanakan program tersebut. Didalam action plan perlu juga ditetapkan targetakan untuk jangka pendek, medium dan panjang.

Gambar 2. Tahapan pembuatan action plan

Pembuatan action plan dapat dilakukan melalui tahapan seperti pada Gambar 2. Tahapan diatas tersebut merupakan tahapan untuk membuat rencana pengembangan sekolah (RPS). Program pendidikan lingkungan hidup di sekolah merupakan bagian dari program sekolah sehingga dalam pembuatan action plan pendidikan lingkungan merupakan satu kesatuan dengan pengembangan sekolah. Adapun tahapan diatas adalah sebagai berikut:

(1)     Penentuan visi dan misi sekolah

Visi sekolah adalah kondisi ideal sekolah yang dicita citakan, sedangkan misi sekolah adalah penerjemahan visi yang sifatnya lebih operasional dan lebih rinci. Salah satu misi tersebut adalah misi lingkungan sekolah yang telah dirumuskan oleh komite lingkungan sekolah.

(2). Tujuan Sekolah

Tujuan sekolah adalah harapan yang ingin dicapai dalam waktu 1 (satu) tahun yang merupakan elaborasi dari misi yang telah dibuat. Tujuan sekolah relative lebih operasional dibandingkan dengan misi.

(3) Tantangan nyata

Tantangan nyata adalah selisih antara tujuan yang ingin dicapai dengan kondisi awal sekolah. Action plan program pendidikan lingkungan adalah yang menjembatani kondisi lingkungan awal dan kondisi yang dicita-citakan dalam tujuan.

(4) Sasaran

Dari hasil pemetaan kesenjangan kondisi awal lingkungan dengan apa yang dicita-citakan (tantangan nyata) maka untuk mencapai kondisi tersebut perlu ditetapkan sasaran yang perlu dicapai.

(5) Identifikasi fungsi

Setelah sasaran di tentukan,maka perlu di identifikasi sumber daya yang di perlukan untuk pencapaian tersebut apa bila sumber daya tersebut ada merupakan dampak positif akan tetapi apa bila belum ada /belum terpenuhi maka perlu di cari bagaimana cara memenuhinya. Sumber daya yang dimaksud adalah semua komponen (manusia, sarana prasarana, dll) yang mendukung pencapaian sasaran.

(6)      Analisis SWOT

Analisis SWOT adalah suatu analisis untuk melihat kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman (Strengh, Weakness, Opportunity, and Threat)  untuk pencapaian sasaran yang telah di tetapkan. Dengan analisis ini dapat diidentifikasi ke empat komponen tadi.

(7)      Alternatif Pemecahan masalah

Dari hasil analisis SWOT didapatkan hasil identifikasi kempat komponen yaitu kekuatan, kelemahan, kesempatan dan ancaman. Dari hasil identifikasi tersebut maka dibuat alternatif pemecahan masalah untuk setiap sasaran.

(8)      Rencana program dan anggaran

Daftar alternatif setiap sasaran yang dihasilkan pada tahap 7 (tujuh) merupakan bahan untuk pembuatan rencana program/action plan program pendidikan lingkungan. Dari daftar alternatif tersebut dicari alternatif pemecahan masalah yang mana yang paling optimum untuk dilakukan. Alternatif pemecahan yang paling optimumlah yang digunakans ebagai action plan program pendidikan lingkungan. Setelah mendapatkan program-program pendidikan lingkungan kemudian diterjemahkan lagi secara detail menjadi rencana program. Rencana program adalah langkah-langkah pelaksanaan program. Langkah pelaksanaan program kemudian digunakan untuk membuat anggaran pelaksanaan action plan.

  1. Tahap ke empat: Monitoring program dan evaluasi kemajuan.

Untuk mengetahui apakah program yang dilaksanakan sudah berhasil atau sudah mencpai target yang telah ditetapkan dalam action plan, maka harus dilakukan monitoring program dan evaluasi kemajuan. Kegiatan monitoring dan evaluasi selain untuk melihat kemajuan juga dapat untuk mendeteksi perlu tidaknya perubahan pelaksanaan. Kegiatan monitoring yang berkelanjutan akan memasikan program berjalan dengan baik.

Metode monitoring yang digunakan tergantung dari area yang akan dilihat dan kemampuan siswa untuk melaksanakan  monitoring.  Sebagai contoh memeriksa meteran air atau listrik, menghitung tagihan air atau listrik, dll. Metode yang lebih komplek misalnya dengan membuat kuesioner, wawancara, dll.

Dalam kegiatan monitoring sangat penting siswa diberikan peranan. Dengan memberikan peranan kepada siswa diharapkan mereka berlatih bertanggung jawab dan secara tindak langsung dapat meningkatkan rasa memiliki terhadap program yang sedang dilaksanakan.

  1. Tahap kelima: Integrasi program kedalam kurikulum

Integrasi pendidikan kedalam kurikulum dapat meningkatkan pencapaian tujuan pendidikan lingkungan hidup di sekolah. Pengintegrasian pendidikan lingkungan hidup kedalam kurikulum sifatnya fleksibel. Pengintegrasian bukan bersifat menyeluruh akan tetapi bisa dilakukan secara parsial atau dijadikan topik saja tanpa mengurangi makna dari tujuan proses pembelajaran setiap mata pelajaran.

Sebagai contoh bagaimana mengintegrasikan pendidikan lingkungan hidup kedalam beberap mata pelajaran adalah sebagai berikut:

(1)     Mata pelajaran Bahasa Inggris:

  • Presentasi pada audien seperti teman sekelas, orang tua mengenai topik lingkungan.
  • Diskusi membahas topik lingkungan, yang diharapkan mengugah opini, dan perubahan perilaku terhadap lingkungan.
  • Membuat tulisan berupa karangan, laporan liputan atau postertentang lingkungan hidup.

(2)     Mata Pelajaran Matematika

  • Mendesain kuesioner untuk survey lingkungan
  • Mempelajaran angka ketika membaca meteran listrik atau air

(3)     Mata pelajaran Ilmu pengetahuan Alam

  • Melakukan observasi dan pengukuran lingkungan
  • Mempelajari habitat dan distibusi organisme di lingkungan
  • Membuat produk dengan barang daur ulang
  • Belajar mengenai sumber daya yang terperbaharui dan yang tidak terperbaharui.
  • Belajar mengenai transfer dan konversi energi

(4)     Mata Pelajaran Pendidikan Teknologi Dasar

  • Mendesain dan membuat produk dari bahan daur ulang
  • Mendesain tempat bermain ideal
  • Mempelajari pencemaran yang diakibatkan teknologi

(5)     Mata pelajaran Komputer

  • Membuat spreadsheet dan menggunakanya untuk menghitung data hasil survey program lingkungan sekolah
  • Membuat grafik dan mempublikasikan hasil survey program lingkungan sekolah.

(6)     Mata pelajaran sejarah

  • Mempertimbangkan dampak perubahan lingkungan terhadap kesehatan berdasarkan waktu peride sejarah yang berbeda
  • Menggunakan foto, dokumen atau presntasi mengenai bagaimana perugahan lingkungan sekolah dari waktu ke waktu.

(7)     Mata pelajaran geograpi

  • Mempertimbangkan bagaimana  isu pembangunan yang berkelanjutan dapat digunakan pada perencanaan sekolah.
  • Mempelajari dampak aktivitas manusia  terhadap lingkungan

(8)     Mata pelajaran Keterampilan

  • Membuat patung dari bahan kertas bekas
  • Membuat poster atau leaflet untuk kampanye lingkungan

(9)     Mata pelajaran Pendidikan kewarganegaraan

  • Partisipasi dalam aktivitas program pendidikan lingkungan dan keuntungannya bagi sekolah dan masyarakat
  • Mengunakan isu lingkungan sebagai bahan untuk kegiatan debat
  • Belajar demokrasi pada saat pemilihan wakil kelas di komite lingkungan sekolah

(10) Mata pelajaran  pendidikan jasmani

  • Belajar mengenai cara hidup sehat
  • Peningkatan kemampuan kerja sama
  1. Tahap ke enam : kemitraan dengan komunitas luar

Salah satu tujuan dari pendidikan lingkungan hidup adalah meningkatankan kepedulian terhadap lingkungan, termasuk tidak hanya komunitas sekolah juga komunitas di luar sekolah  yang berhubungan langsung dengan sekolah. Kegiatan  dalam rangka melibatkan komunitas lain adalah bisa dengan cara mengadakan aksi hari lingkungan yang diselenggarakan di sekolah atau diluar sekolah dengan melibatkan komunitas sekolah dan diluar sekolah yang ada hubungan langsung  misalnya orang tua, dinas pendidikan setempat, pengamat lingkungan, kalangan industri, dll. Pada kegiatan tersebut dapat dijadikan ajang sosialisasi program sekolah berwawasan lingkungan dan membuat kemitraan dengan komunitas di luar sekolah.

  1. Program Pendidikan Lingkungan disekolah.

Misi dari pendidikan lingkungan yaitu meningkatan  rasa kepedulian, memberikan prespektif baru, nilai, pengetahuan, keterampilan dan proses yang dapat mengakibatkan perubahan perilaku dan kebiasaan yang mendukung pelestarian lingkungan hidup. Sesuai dengan misi diatas maka pelaksanaan program pendidikan lingkungan hidup di sekolah harus memberikan atmosfir kepada siswa, sehingga ketika siswa berada di sekolah siswa selalu bersentuhan dengan pendidikan lingkungan hidup.

Untuk mencapai kondisi seperti diatas maka pendidikan lingkungan harus berada atau bersama-sama dengan progam-program yang diikuti oleh siswa. Bila kita lihat kegiatan siswa disekolah, maka kegiatan siswa terdiri dari kegiatan di kelas, Kegiatan istirahat dan kegiatan ekstrakurikuler. Oleh karena itu pendidikan lingkungan pun harus berada dalam program-program pada tiga kegiatan siswa.

  1. Pendidikan lingkungan terintegrasi pada kegiatan intrakurikuler

Kegiatan intrakurikuler  adalah kegiatan belajar siswa di kelas yang mengacu kepada kurikulum. Sebagai strategi mengembangkan atmosfir lingkungan hidup maka perlu mengintegrasikan pendidikan lingkungan hidup dalam kegiatan intra kurikuler. Integrasi pendidikan lingkungan hidup pada kegiatan intra kurikuler adalah integrasi pendidikan lingkungan kepada kurikulum. Mekanismenya telah dijelaskan pada bagian tahapan integrasi pendidikan lingkungan kedalam kurikulum.

Integrasi pendidikan lingkungan hidup kepada kurikulum merupakan penyisipan area, topik atau isu yang dibahas dalam mata pelajaran. Selain diintegrasikan pada mata pelajaran yang sudah ada bisa saja pendidikan lingkungan hidup ini dijadikan salah satu mata pelajaran muatan lokal( adapun materinya bisa dikembangkan atau mengacu pada domain pendidikan lingkungan hidup pada lampiran).

  1. Pendidikan lingkungan terintergasi pada program sekolah
program sekolah disini adalah program, kegiatan atau aturan yang dibuat sekolah selain kegiatan intra dan ekstra kurikuler. Misalnya peraturan kelas bersih, kegiatan operasi semut setiap hari jumat, Penghematan air dan listrik, Penghijauan sekolah dll.  Program sekolah ini dibuat untuk memelihara lingkungan sekolah dan sekaligus sebagai

pendidikan praktis bagi anak untuk meningkatakan kepedualian terhadap lingkungan. Diharapkan dengan pelaksanaan program secara konsisten  ada proses pembiasaan bagi siswa dan diharapkan bersamaan dengan proses tesebut dapat meningkatkan dan terjadi akselerasi perubahan sikap kepedulian siswa terhdap lingkungan.

  1. Pendidikan lingkungan sebagai kegiatan ekstrakurikuler
Pendidikan lingkungan hidup dapat juga dikemas dalam kegiatan ekstrakurikuler. Kegiatan-kegiatan tersebut bisa berupa Kelompok Ilmiah Remaja (KIR), Pencinta Alam (PA), Pramuka, atau kegiatan ekstrakurikule yang khusus seperti out bound, Pelatihan penelitian lapangan dll.
  1. Piloting Sekolah Berwawasan lingkungan

Sebagai tindak lanjut dalam pengembangan pendidikan lingkungan hidup di sekolah maka perlu dikembangakan sekolah uji coba sebagai model sekolah berwawasan lingkungan. Adapun langkah-langkah pelaksanan piloting adalah sebagai berikut:

  1. Sosialisasi Konsep pendidikan Lingkungan hidup

Kegiatan ini berupa kegiatan seminar atau workshop dengan sekolah dan dinas pendidikan kab/kota atau propinsi. Tujuan dari kegiatan sosialisasi adalah menybarluaskan informasi mengenai konsep pendidikan lingkungan hidup. Maksud lain dari kegiatan sosialisasi adalah mencari masukan untuk program implementasi sekolah berwawasan lingkungan di daeran serta mengidentifikasi sekolah yang berpotensial untuk dijadikan sekolah uji coba.

b. Pemilihan sekolah uji coba

Sekolah uji coba adalah sekolah yang bepotensi untuk melaksanakan program pendidikan lingkungan hidup. Ada beberapa kriteria yang dapat digunakan untuk meseleksi sekolah yang akan dijadikan uji coba sekolah berwawasan lingkungan, akan tetapi yang paling utama adalah stake holders sekolah mendukung pelaksanaan program pendidikan lingkungan.

  1. Pelatihan Guru dan kepala sekolah

Dalam rangka membekali pelaksana program dilapangan, perlu sekali dilaksanakan pelatihan bagi kepala sekolah dan guru untuk membekali pengetahuan dan keterampilan impelemntasi pendidikan lingkungan hidup di sekolah. Pelatihan guru dan kepala sekolah dilaksanakan dalam tiga tahapan yaitu tahun pertama memberikan pelatihan tentang konsep pendidikan lingkungan hidup, sekolah berwawasan lingkungan dan program kegiatan yang harus dilaksanakan. Pada tahun pertama kegiatan yang harus dilaksanakan adalah tahap 1 sampai dengan tahap 4 pada gambar ). Pada tahun kedua pelatihan mengenai pengintegrasian pendidikan lingkungan hidup kedalam kurikulum, dan tahun ketiga pelatihan tentang kemitraan dengan komunitas diluar sekolah.

  1. Pemberian grant bagi sekolah model

Grant diberikan kepada sekolah model bertujuan sebagai subsidi bagi pelaksanaan uji coba sekolah berwawasan lingkungan. Grant ini diperuntukan untuk subsidi pembiayaan program.

  1. Supervisi klinis

Supervisi klinis adalah kegiatan monitoring yang bertujuan melihat progress program dan memberikan asistensi apabila ada permasalahan pelaksanaan program dilapangan. Supervisi klinis minimal dilaksanakan 3 (tiga) kali dalam satu tahun yaitu pada tahap persiapan, tahap pelaksanaan, dan tahap evaluasi akhir tahun.

  1. Pelaporan Hasil uji coba sekolah model

Pelaksanaan pelaporan hasil uji coba di buat setiap akhir tahun pelaksanaan program.laporan ini sebagai bentuk pertanggung jawaban dan progress report kemajuan pelaksanaan program. Pada tahun ketiga akan dibuat pelaporan akhir sekaligus evaluasi dampak pelaksanaan program terhadap tujuan pendidikan lingkungan hidup yaitu perubahan pengetahuan, nilai, pandangan dan perilaku yang peduli terhadap lingkungan.Laporan akhir dapat digunakan sebagai bahan kebijakan apakah sekolah model ini diperluas atau tidak.

Informasi Lebih Lanjut:

Wahyu Surakusumah, S.Si, MT

Laboratorium Ekologi

Jurusan Pendidikan Biologi- FPMIPA

Universitas Pendidikan Indonesia

Jl Setia Budhi No 229 Bandung

Telp/fax: 022 2001937

Email : wahyu_bioupi@yahoo.com

HP: 08156027301

Lampiran:

U P I

Jurusan Pendidikan Biologi

DESAIN KURIKULUM PENDIDIKAN LINGKUNGAN HIDUP

Program Sekolah berwawasan lingkungan merupakan program pendidikan lingkungan hidup yang komprehensif yaitu dengan menjadikan issue lingkungan hidup sebagai issue yang terintegrasi dalam program sekolah sehari-hari.  Dalam rangka memberikan panduan dalam pengembangan program tersebut maka perlu dikembangkan ruang lingkup materi program tersebut.

Program sekolah berwawasan lingkungan meliputi program intrakurikuler, ekstrakurikuler dan pengembangan sekolah. Program-program tersebut merupakan program pilihan yang bisa dilaksanakan seluruhnya atau sebagian. Ruang lingkup materi yang dikembangkan tentunya disesuaikan dengan 3 jenis program di atas.

Program Intrakurikuler:

Program intrakurikuler terdiri dari: (1) Integrasi pendidikan lingkungan hidup kedalam kurikulum yang digunakan pada setiap mata pelajaran,  (2) Pendidikan lingkungan hidup sebagai muatan lokal. Desain kurikulum pendidikan lingkungan hidup harus mengacu kepada pendekatan integratif inovasi pembelajaran. Dalam kerangka pengembangan kurilukulum tersebut perlu dikembangkan domain-domain yang memberikan pembatasan atau ruang lingkup pengembangan materi. Ada pun domainnya adalah sebagai berikut:

Domain A: Lingkungan dan masyarakat

Issue lingkungan di kehidupan sehari-hari

Siswa diharapkan dapat memahami hubungan antara perubahan masyarakat dengan perkembangan lingkungan hidup melalui penelitian sederhana.

Kompetensi :

  1. Siswa dapat menjelaskan perubahan masyarakat yang terjadi di kehidupan sehari-hari dan konsekuensi perubahan kondisi lingkungan hidup, baik secara  positif atau  negatif lingkungan.
  2. Dapat mengidentifikasi perilaku ramah.
  3. Dapat memberikan pendapatan mengenai perubahan masyarakat dan lingkungan hidup berdasarkan argumen yang inklusif secara norma maupun nilai.
  4. Dapat membedakan antara fakta, pendapat, penyebab, dan dampak.

Industri dan teknologi

Siswa diharapkan dapat menjelaskan prinsip pengaruh teknologi dan industri terhadap perubahan lingkungan hidup berdasarkan observasi di lapangan.

Kompetensi:

  1. Siswa dapat membedakan teknologi yang berdampak negatif atau positif terhadap lingkungan hidup.
  2. Dapat memberikan pendapatan tentang proses pencemaran lingkungan yang di akibatkan oleh industri berdasarkan penelitian sederhana.
  3. Dapat menjelaskan proses-proses teknologi sederhana yang dapat mengurangi pencemaran lingkungan hidup.
  4. Dapat mengidentifikasi produk ramah lingkungan.

Profesi

Siswa diharapkan dapat menjelaskan profesi yang berhubungan dengan pengelolaan lingkungan hidup berdasarkan pencarian informasi atau observasi sederhana.

Kompetensi:

  1. Siswa dapat mengidentifikasi profesi-profesi yang berhubungan dengan pengelolaan lingkungan hidup.
  2. Dapat menjelaskan deskripsi kerja sederhana profesi yang berhubungan dengan lingkungan hidup.
  3. Dapat menjelaskan prinsip-prinsip keselamatan kerja dari profesi yang berhubungan dengan lingkungan hidup.
  4. Dapat menjelaskan kualifikasi profesi yang berhubungan dengan lingkungan hidup dengan cara observasi sederhana.

Domain B:  Sumber daya alam

Jenis sumber daya alam

  1. Siswa dapat membedakan sumber daya alam yang dapat terperbaharui dan tidak dapat terperbaharui.
  2. Dapat menjelaskan fungsi dari sumber daya alam

Pengelolaan lingkungan hidup

  1. Siswa dapat memahami proses-proses pengelolaan lingkungan hidup
  2. Dapat merencanakan pengelolaan lingkungan hidup di tingkat sekolah
  3. Dapat membandingkan beberapa macam cara pengelolaan lingkungan hidup.
  4. Dapat memberikan pendapat tentang suatu issue lingkungan hidup berdasarkan penelitian sederhana.

Domain C: Desain program pengelolaan lingkungan hidup

  1. Siswa dapat membuat desain untuk memecahkan permasalahan sederhana.
  2. Dapat merencanakan program sederhana tentang pengelolaan lingkungan hidup.
  3. Dapat melakukan pengeukuran sederhana indikator pengelolaan lingkungan hidup.
  4. Dapat mengevaluasi desain program yang telah dibuat.

Domain-domain yang dikembangkan dalam program intrakurikuler ini bertujuan mengembangkan kecakapan hidup terutama generic skill seperti:

  1. Pembelajaran siswa melalui investigasi secara mandiri.
  2. Belajar mengumpulkan informasi
  3. Mampu bekerja sama
  4. Belajar memformulasikan dan mengekspresikan pendapat.
  5. mengenal profesi yang berhubungan dengan lingkungan hidup.

Dari generik skill yang dikembangkan diharapkan muncul:

  1. Perilaku siswa yang peduli terhadap lingkungan hidup
  2. Kecakapan komunikasi
  3. Belajar mandiri
  4. kecakapan mencari informasi
  5. learning by doing
  6. mampu bekerja sama.

Program ekstrakurikuler:

Kegiatan ekstrakurikuler merupakan   salah satu dari program sekolah berwawasan lingkungan yang menjadi target dalam rangka pendidikan lingkungan hidup di sekolah. Ruang lingkup atau kurikulum pembelajaran pendidikan lingkungan hidup pada program ekstra kurikuler bisa menggunakan desain kurikulum sama seperti untuk program intrakurikuler, akan tetapi dalam program ekstrakurikuler lebih baik dibuat  berupa program-program yang disesuaikan dengan kegiatan ektra kurikuler itu sendiri.

Program pengembangan sekolah:

Program pengembangan sekolah merupakan program yang dikembangkan oleh komite lingkungan sekolah yang implementasinya melibatkan seluruh stake holder sekolah. Dibawah ini adalah program program yang dapat dikembangkan :

  1. Program pengehematan sumber daya.

Program ini  merupakan program penghematan sember daya yang ada di sekolah seperti penggunaan air, listrik, kertas dll.

  1. Minimisasi pencemaran

Program ini adalah program yang bertujuan untuk mengurangi  pencemaran di sekolah seperti mengurangi sampah disekolah, seperti melakukan pemisahan sampah organik dan non organik, sampah kertas di daur ulang dijadikan kerajinan tangan, dll.

  1. Berkebun
  2. Pendidikan lingkungan hidup
  3. dll.

Kajian keterkaitan Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan (Education for Sustainable Development) dengan Pendidikan Teknologi Dasar (Basic Technology Education)

Oleh:

Wahyu Surakusumah

Wahyu_bioupi@yahoo.com

Jurusan Pendidikan Biologi

Fakultas Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

Universitas Pendidikan Indonesia

Sangat menarik untuk melakukan kajian keterkaitan antara pendidikan pembangunaan berkelanjutan dengan pendidikan teknologi dasar. Saya melihat ada satu sinergisitas dari kedua program ini yang memberikan pemahaman secara utuh bagi generasi muda yang merupakan pemimpin bangsa di masa depan sebagai dasar pembentukan pemahaman dan karakter untuk mengatasi permasalahan dimasa sekarang dan masa yang akan datang. Sebelum saya menjelaskan hasil kajian keterkaitan dan sinergisitas yang terjadi  saya ingin mencoba menuliskan terlebih dahulu apa yang dimaksud dengan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan dan pendidikan teknologi dasar, kemudian setelah itu saya akan coba menjelaskan bagaimana keterkaitannya dan sinergisitas yang terjadi.

Pendidikan untuk Pembangunan Berkelanjutan  terinspirasi dan action dari konsep pembangunan berkelanjutan yang merupakan publikasi laporan Brundtland commission yaitu komisi yang di bentuk oleh United Nation general assembly (dibawah PBB) yang menghasilkan suatu konsep pembangunan yang dikenal dengan pembangunan berkelanjutan. Konsep ini didefinisikan  sebagai pembangunan yang memenuhi kebutuhan pada masa kini tanpa menghilangkan kemampuan dari generasi mendatang untuk dapat memenuhi kebutuhan mereka sendiri. Keselamatan manusia tidak akan terjamin tanpa pembangunan yang berkelanjutan.

Kemudian perkembangan terbaru yang sekarang menjadi issue hangat untuk bidang lingkungan adalah global warming yang  diakibatkan pemanfaatan sumber daya dan lingkungan yang tidak arif untuk semata-mata mendapatkan keuntungan ekonomi dan menyebabkan konflik sosial. Untuk mengatasi permasalahan tersebut salah satu aksi yang dilakukan adalah bagaimana menanamkan pemahaman tentang pembangunan berkelanjutan melalui kegiatan pendidikan.

Kebijakan yang diambil oleh pemerintah Indonesia untuk melaksanakan aksi tersebut yaitu dengan mengembangkan pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan. Tujuan dari program ini adalah memberikan pemahaman, ketrampilan, dan menanamkan nilai-nilai untuk hidup berkelanjutan dalam masyarakat. Pendidikan dilihat sebagai tugas setiap orang, dan semua sektor masyarakat ikut bertanggung jawab. Pendidikan ini merupakan pendidikan multidisiplin yang mencoba mengintegrasikan aspek-aspek lingkungan, ekonomi dan sosial. Langkah-langkah yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia untuk pengembangan program ini untuk tahun 2005-2014 adalah melakukan sosialisasi, mengintegrasikan program pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan dalam sistem pendidikan di setiap tingkatan dan melakukan inovasi dan pengembangan serta kerja sama riset.

Pelaksanaan pendidikan untuk pembangunan yang berkelanjutan pada saat ini yang paling menonjol yaitu dalam kontek pendidikan lingkungan hidup. Beberapa daerah tingkat II telah mengambil kebijakan untuk melaksanakan pendidikan lingkungan hidup masuk kedalam kurikulum lokal atau muatan lokal. Akan tetapi pengembangannya masih belum memuaskan dan masih perlu pengembangan. Salah satu potensi untuk melengkapi implementasi pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan yang berdampingan dengan mata pelajaran pendidikan lingkungan hidup  adalah pendidikan teknologi dasar.

Pendidikan teknologi dasar merupakan suatu mata pelajaran yang mulai di kembangkan di Indonesia pada tahun 1997. tujuan dari pendidikan teknologi dasar adalah mengenalkan tekonologi yang ada dikehidupan sehari-hari. Kontek teknologi disini bukan teknologi high tech akan tetapi juga mencakup aspek lingkungan, ekonomi , sosial dan budaya. Kompetensi yang ingin dicapai dari kegiatan pembelajaran ini adalah literacy terhadap teknologi disekitar kehidupan sehari-hari, memahami dampak positif dan negatif dari teknologi  serta mempunyai kompetensi problem solving dan resiliensi untuk menghadapi permasalahan yang dihadapi serta dapat mencari solusi yang terbaik dengan minimum dampak agar terjadi keberlanjutan.

Bagaimanakan keterkaitan antara pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan dengan pendidikan teknologi dasar.  Bila kita merujuk pada konsep  pembangungan berkelanjutan yaitu melakukan pembangunan dengan memanfaatakn sumber daya dan lingkungan untuk kesejahteraan manusia tanpa mengurangi hak generasi yang akan datang untuk pemanfaatan sumberdaya  dan lingkungan sekarang, hal tersebut menunjukan bahwa pemanfaatan sumber daya dan lingkungan haruslah terjadi kesetimbangan dengan manfaat ekonomi dan sosialnya. Tentunya untuk mengatasi aspek tersebut teknologi adalah sebagai tools untuk melakukan harmonisasi ketiga aspek tersebut di atas.

Dalam konsep segitiga Munashighe dalam konsep pembangunan berkelanjutan disegitiga tersebut digambarkan pada titik tengah adalah aspek teknologi. Teknologi berperan sebagai sarana atau tools melakukan harmonisasi pemanfaatan aspek lingkungan yang mempunyai keterbatasan yang disebut dengan daya dukung lingkungan, aspek sosial juga daya dukung supaya tidak terjadi konflik dan aspek ekonomi untuk melihat  benefit (keuntungan) yang dihasilkan. Bagaimana hubungannya konsep tersebut diatas dengan pendidikan teknologi dasar.

Keterkaitan dan sinergisitas yang terjadi antara pendidikan untuk pembangunan yang berkelanjutan dengan pendidikan teknologi dasar adalah: (1) untuk aspek teknologi ; pendidikan teknologi dasar menyampaikan materi-materi pengenalan kontek teknologi sebagai tools untuk mempermudah manusia untuk mensejahterakan dirinya, akan tetapi dalam mata pelajaran ini juga disampaikan dampak-dampak yang dapat terjadi baik sisi positif maupun sisi negatif akibat dampak teknologi tersebut. Tujuan dari hal tersebut adalah mengugah pemahaman mereka untuk bersikap arif dalam pemanfaatan agar tidak menyebabkan dampak negatif akibat teknologi yang dapat menyebabkan pencemaran (seperti global warming, pencemaran air, udara, tanah, Pemanfaatan sumber daya yang tidak efesien dll)  dan konservasi energi (seperti hemat energi, energi terbarukan, dll). Dengan pemahaman tersebut peserta didik diharapkan mempunyai wawasan tentang keberlanjutan yang harus dipertahankan. (2). Esensi dari pembelajaran pendidikan teknologi dasar adalah menanamkan pemahaman kemampuan problem solving dan resiliensi bagi peserta didik untuk mengatasi permasalahannya dikehidupan sehari tanpa meninggalkan kelestarian agar dapat survive dikemudian hari. (3) materi pendidikan teknologi dasar bersifat pendekatan multidisiplin, yaitu kontek materi pembelajaran meliputi aspek lingkungan, ekonomi dan sosial, hal tersebut tercantum dalam kurikulum yang bersifat fleksibel dinamis dengan sistem moduler yang didalamnya ada aspek ekonomi, sosial, lingkungan tentunya dalam kontek ruang lingkup teknologi dasar (4) Kompetensi sosial seperti kerja sama, empati, toleransi dll merupakan kompetensi yang diharapkan berkembang sebagai karakter peserta didik yang kompetensi sosial tersebut di stimulasi secara berkelanjutan dalam proses pembelajaran dengan mengunakan model pembelajaran yang menstimulus kemunculan kompetensi tersebut.

Resume keterkaitan:

Dari kajian yang dilakukan, keterkaitan antara pendidikan untuk pembangunan berkelanjutan dengan pendidikan teknologi dasar, menurut kajian saya pendidikan teknologi dasar adalah komponen yang sangat sinergi untuk pencapaian pemahaman konsep pembangunan berkelanjutan bagi peserta didik terutama untuk tingkat menengah dan dasar. Pendidikan Teknologi Dasar menegaskan tentang peranan teknologi dalam harmonisasi aspek sosial, ekonomi dan lingkungan dalam pendekatan komprehensif dalam satu materi pembelajaran dan proses tersebut dilakukan secara kontektual sesuai dengan kondisi sosial budaya peserta didik.

Dengan proses pembelajaran seperti tersebut ( materi yang multidisiplin dan pendekatan kontektual) akan memberikan gambaran bagi peserta didik tentang keterkaitan antara setiap aspek secara jelas dan sesuai dengan kondisi real, hal tersebut tentunya sisi positif untuk mempermudah pemahaman peserta didik tentang konsep keberlanjutan dan peranan mereka untuk keberhasilan pembangunan berkelanjutan.

Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!